h1

Hidup Bersama Formalin

Juni 11, 2012

Realitas Sehari-hari
Penggunaan bahan pengawet Formalin sudah dipakai di kalangan masyarakat luas untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Perilaku sebagian produsen makanan di negeri ini ternyata masih setali tiga uang. Dan ternyata, penggunaan formalin tidak hanya di Indonesia saja, tetapi juga di Negeri China dan beberapa Negara Asia lainnya. Selain pada industri makanan, ternyata Formalin juga digunakan di industri kecantikan, terutama pada produk cat kuku. Di pasaran, formalin dapat ditemukan dalam bentuk cairan, dengan kandungan Formaldehid sebesar 10-49 %.

Kebiasaan jajan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat metropolitan sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar. Karena waktu yang terbatas atau tak sempat makan di pagi hari, dengan maksud supaya praktis, maka tindakan
yang diambil adalah mengkonsumsi jajanan yang dijual di pinggir jalan. Jenisnya bermacam-macam, mulai dari tahu goreng, nasi empal, dan lain-lain.
Memang, jika dilihat dari satu sisi, penggunaan Formalin sangat menguntungkan para pebisnis, yang utamanya bergerak di bidang pengolahan makanan. Tetapi, jika sudah menyangkut urusan kesehatan dan keamanan bahan pangan, maka sudah menjadi tanggung jawab pihak pemerintah untuk mengaturnya dengan undang-undang tersendiri.

Penggunaan pada Tahu
Sebanyak 50 persen lebih penjualan tahu di seluruh wilayah kota besar di Indonesia, seperti Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya mengandung formalin. Ditengarai para produsen makanan tersebut sudah mengetahui bahaya penggunaan senyawa Formalin, tetapi demi efisiensi, mereka terpaksa menggunakannya.
Tahu yang beredar di pasaran tradisional adalah jenis tahu biasa, baik berupa tahu cetak maupun tahu potongan dan tahu cina, serta tidak ada merek tertentu. Penyimpanan dilakukan dalam wadah kaleng terbuka berukuran 30 x 30 cm dan direndam dalam air, dijual tanpa kemasan khusus, hanya dikemas dengan plastik untuk pembeli. Sedangkan untuk pasar swalayan, jenis tahu yang dijual lebih beragam, antara lain tahu biasa, tahu cina, tahu bandung, dan tahu sutra. Kemasan yang digunakan terdiri dari kemasan plastik hingga kemasan vakum.

Penggunaan pada Ikan Laut
Penggunaan formalin diakui oleh beberapa pekerja pengasinan di tempat pengasinan ikan Muara Angke, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, dan Pantai Kenjeran, Surabaya Utara. Formalin digunakan karena bisa mempercepat pengeringan ikan. Sebagai perbandingan, jika memakai garam saja, proses pengasinan ikan membutuhkan waktu sampai tiga hari. Jika ditambahkan formalin hanya setengah hari saja. Jika menggunakan garam saja, untuk mengeringkan satu kilogram ikan dibutuhkan satu kilogram garam. Sementara, seperempat liter formalin ditambah dua kilogram garam bisa mengasinkan lima kilogram ikan. Penggunaan formalin biasanya hanya pada ikan besar seperti tongkol, cumi, dan jambal. Sedangkan, pada ikan kecil jarang digunakan karena cepat kering.
Ikan-ikan yang dipasok melalui darat dari luar Jakarta, khususnya Surabaya dan Semarang, sudah pasti menggunakan formalin, karena pasokan ikan-ikan itu memakan waktu lama untuk sampai ke Jakarta. Bahkan, daging-daging lain seperti unggas pun diduga kuat menggunakan bahan yang sama.

Dampak bagi Kehidupan
Formalin mengandung beberapa keuntungan. Saat ini, harga Formalin untuk 1 liter tidak sampai seribu rupiah. Selain itu, formalin dapat memperpanjang usia makanan yang dijual. Formalin juga dapat memperbaiki penampilan luar makanan serta melindungi makanan dari serangan jamur dan bakteri. Dengan demikian, keuntungan yang di dapat oleh para produsen makanan dapat diupayakan semaksimal mungkin. Apalagi dalam keadaan ekonomi saat ini yang membuat semakin miskin masyarakat yang sudah miskin.
Pada prinsipnya, senyawa Formalin yang biasanya digunakan sebagai bahan pengawet mayat dapat bereaksi dengan asam amino yang menyebabkan protein terdenaturasi, sehingga Formalin akan bereaksi cepat dengan lapisan lender
saluran pernafasan dan saluran pencernaan. Dari segi fisiknya, uap formalin yang terkontak secara langsung akan mengakibatkan iritasi mata, hidung, esophagus dan saluran pernafasan. Dalam konsentrasi yang tinggi akan mengakibatkan kejang-kejang di sekitar pangkal tenggorokan.
Yang menjadi masalah adalah kandungan bahan pengawet Formalin akan segera bereaksi dengan cepat dalam saluran dan organ pencernaan apabila kondisi perut dalam keadaan kosong. Selain itu, pemakaian formalin dalam makanan dapat menyebabkan keracunan pada organ fungsional tubuh manusia.
Hal tersebut ditandai dengan gejala sukar menelan, nafsu makan berkurang, mual sebagai reaksi penolakan dari lambung, sakit perut yang akut sebagai reaksi penolakan dari hati, lambung dan usus besar, diare dan pada akhirnya disertai dengan muntah-muntah. Pada tingkat yang parah akan mengakibatkan depresi pada susunan syaraf atau gangguan peredaran darah. Beberapa penelitian pada tikus percobaan sangat mendukung dampak negative asupan Formalin terhadap organ pencernaan. Jika pada mamalia tingkat rendah saja dapat berakibat fatal, apalagi pada manusia.
Berdasarkan sifatnya yang karsinogenik, jika konsentrasi Formalin dalam tubuh tinggi, maka akan bereaksi secara kimia dengan hampir seluruh sel penyusun tubuh sehingga menyebabkan kerusakan sel dan bahkan mutasi sel yang memicu berkembangnya kanker, setelah terakumulasi dalam waktu yang relative lama dalam tubuh.
Siapa yang Mengatur Seharusnya, peredaran Formalin dibatasi dan dibuatkan peraturan yang ketat.
Sebagai konsumen, kita perlu waspada. Sebab, dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai lembaga terkait yang pelaksanaannya setahun sekali itu menunjukkan sebagian besar bahan makanan mengandung formalin, suatu zat kimia yang sangat berbahaya bagi tubuh, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Masyarakat hendaknya hati-hati dan tidak lagi membeli produk tersebut sebagai sanksi publik bagi produsen dan pedagang nakal tersebut.
Jika kita hanya berharap pada pemerintah melalui badan-badannya seperti Badan POM dan Disperindag, sepertinya hanyalah menggantang asap saja. Dalam hal ini, konsumen tidak mendapatkan perlindungan dari pemerintah.
Mengapa? Karena produsen dan pedagang makanan yang secara nyata menggunakan Formalin dengan sengaja seharusnya dapat dikenakan sanksi. Bahkan harus diumumkan di media massa sebagai peringatan keras. Dengan demikian, masyarakat akan selektif dalam memilih dan membeli makanan yang bebas Formalin. Diperlukan peran aktif masyarakat dan lembaga non-pemerintah terkait dalam memonitor dan mengawasi peredaran dan penggunaan Formalin.
Peraturan ukum yang membahas hal ini adalah UU No 7 Tahun 1999 tentang Pangan pada Pasal 55 butir (b) dan Pasal 56 butir (b). Pasal tersebut mencantumkan sanksi pidana penjara dan atau denda. Sementara kewajiban pelaku usaha diatur dalam UU No 8 Tahun 1999 pada Pasal 7, misal dalam butir (a) beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya serta
butir (d) menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku.

Sebuah Saran Alternatif
Dalam hubungannya dengan dampak negative Formalin, maka imunitas tubuh sangat memegang peranan dalam memblokade serangan senyawa-senyawa toksik dalam Formalin. Jika imunitas tubuh dalam kondisi rendah, sangat mungkin Formalin yang dengan konsentrasi rendah sekalipun akan dapat berdampak buruk terhadap kesehatan manusia. Beberapa saran agar dapat hidup secara nyaman dan aman dengan Formalin, yang pertama adalah. usahakan tetap tenang dan memakai pikiran logis. Kita harus meningkatkan kewaspadaan serta kejelian dengan memperhatikan kualitas dan kondisi barang serta harganya. Yang kedua, teliti dan cermat sebelum mengkonsumsi makanan. Biasanya, makanan yang mengandung Formalin memiliki penampilan fisik yang sempurna, daging sudah tidak terlalu kenyal, berat makanan bertambah, dan tercium bau bahan kimia.
Hal tersebut dapat dilakukan oleh orang awam sekalipun. Yang ketiga, Jika memungkinkan, pakailah bahan pengawet lain, seperti Natrium Benzoat yang berbentuk garam berkristal. Natrium Benzoat ini memang relative mahal, tetapi apalah artinya jika dibanding dengan kesehatan kita. Yang keempat, tingkatkan konsumsi makanan suplemen kesehatan sebagai pemblokade partikel racun yang masuk ke dalam tubuh, dan juga meningkatkan stamina dan imunitas tubuh dalam menghadapi keadaan lingkungan yang terburuk.

Ditulis oleh:
Iwan Budhiarta, SSi, MT, Aff.WM
Staf Program MM-Teknologi ITS, Pemerhati Lingkungan dan aktif pada Yayasan
Konsumen Surabaya (YKS) Jawa Timur.

reference : http://dir.groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/message/23941

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: